KH.MOH NASIR, FIGUR KIAI YANG EGALITER & ORGANISATORIS
Pertama, sebelum penulis menyampaikan sedikit ulasan perjalanan hidup almarhum Bapak KH Moh Nasir, marilah kita luangkan waktu untuk kirim doa, alfatihah
Bapak KH Moh Nasir, merupakan tokoh ulama kharismatik di wilayah Kecamatan Bongas
Penulis merupakan salah satu santri Bapak KH Moh Nasir, yang masuk di pondok pesantren pada awal tahun 2012-2016
Pada tahun 2014, penulis merupakan salah satu santri yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke madrasah Aliyah
Saat itu pak kiai memberikan motivasi " kedepan kamu nak jadi pemimpin di desa mu " sambil mengelus pundak penulis yang saat itu jadi santri
Memotret sedikit perjalanan hidup Bapak KH Moh Nasir, teringat kurun waktu 2014-2015 saya di latih pidato langsung oleh Bapak KH Moh Nasir, karena saat itu akan ada lomba di Gedung Dakwah Nahdlatul Ulama
Saat itu penulis di ajarkan untuk mengucap kalimat penutup pidato nya dengan " Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq"
Itulah, interaksi pertama kali penulis mengenal Nahdlatul Ulama, meskipun belum paham apa itu organisasi Nahdlatul Ulama
Selain itu juga, beberapa kali penulis di ajak ikut kegiatan-kegiatan keagamaan di Majelis Ulama Indonesia (MUI) tingkat Kecamatan Bongas, membahas berbagai persoalan kemasyarakatan di Kecamatan Bongas
Betapa penulis menyaksikan, pribadi Bapak KH Moh Nasir begitu dekat dengan tokoh agama tingkat blok/dusun, sering turun ke masyarakat bawah, mendengarkan masukan dan keluhan masyarakat, terlebih problematika pendidikan agama Islam
Gaya komunikasi Bapak KH Moh Nasir dengan masyarakat, menunjukkan figur Kiai yang Egaliter, tidak canggung berbaur dengan masyarakat, terlebih menjadi pengayom masyarakat dengan mengedepankan Uswatun Hasanah
Selain aktif di kegiatan keagamaan bersama masyarakat di tiap dusun/blok di kecamatan Bongas, Bapak KH Moh Nasir juga aktif di Organisasi Nahdlatul Ulama
Tak heran, ketika penulis masuk kuliah dan menceritakan ikut terlibat di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII ), Pak Kiai ikut mensupport
" Selagi ada tempat berteduh, syukur tuh di sekretariat PMII bisa gratis , terus motivasi belajar di kuliah nya jangan kendor "
Sebelum penulis lulus di dunia perkuliahan,
Saat itu sowan ke Pak Kiai, kebetulan berbarengan ada kegiatan Makesta IPNU IPPNU di Pondok pesantren, menyarankan penulis agar aktif di Gerakan Pemuda Ansor
Berkat saran Pak Kiai, penulis aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan mendapat berkah pekerjaan saat itu jadi staf di Pengawas Pemilu
Dengan pekerjaan itu, penulis juga bisa membayar biaya perkuliahan sampai wisuda
Bapak KH Moh Nasir, namanya terkenal bukan hanya di kalangan tokoh agama tingkat blok atau desa di Kecamatan Bongas, bahkan di Kabupaten Indramayu namanya harum, sebagai figur yang Egaliter (dekat dengan masyarakat) dan Organisatoris
Tak heran, alumni-alumni yang di didik langsung oleh Bapak KH Moh Nasir, ketika terjun di masyarakat, itu mudah beradaptasi, tidak canggung, dan selalu terpakai atau di butuhkan di lingkungan masyarakat
Teringat nasehat Pak Kiai " jadilah alumni yang memiliki sikap dan sifat mudah meminta maaf, mudah mengucapkan terimakasih, dan selalu siap dalam kegiatan yang positif/baik "
Bapak KH Moh Nasir meninggalkan nama harum serta dedikasi di dunia pendidikan dan keagamaan yang teramat banyak.

Komentar
Posting Komentar