Pendidikan berjenjang dan titik kulminasi realita sosial

 

Pendidikan menjadi instrumen terpenting dalam perjalanan bangsa Indonesia, para kaum intelektual adalah motorik pembebasan dari belenggu penjajah yang memakai konsep " divide et impera ".


Pendidikan merupakan jati diri bangsa yang sangat fundamental, karena dengan pendidikan anak muda akan menemukan kepribadian yang luhur dan berwibawa


Perkembangan dunia pendidikan semakin cepat dengan adanya arus digital dan teknologi


Di Indonesia sendiri, masyarakat yang mengenyam pendidikan dapat melalui lembaga atau tempat yang bermana " Sekolah" . Menurut ejaan Yunani Kuno sekolah di ambil dari kata " scholē " yang berarti waktu luang 


Konsep  pendidikan di Indonesia menggunakan pedagogi, baik dari jenjang sekolah kanak-kanak sampai di tingkat perguruan tinggi


Bagaimana relevansi pendidikan berjenjang dengan konsep pedagogi serta minat dan bakat siswa ? 


Masyarakat yang ingin mendapatkan pendidikan secara utuh, maka mau tidak mau harus berinteraksi di lingkungan sekolah yang di dalam nya ada tenaga pendidik ataupun guru


Selama waktu luang itu, anak-anak akan di didik dan dilatih sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan nya saat itu .


Akan tetapi banyak di temukan oleh setiap pribadi siswa di Indonesia, bahwa pendidikan berjenjang dengan konsep pedagogi sudah tidak relevan, karena antara minat dan bakat serta titik kulminasi realita sosial jauh berbeda.


Maksudnya, kita menyadari atau tidak perkembangan pendidikan semestinya memberikan efek kesejahteraan untuk masyarakat, karena memiliki bekal dan modal yang cukup dengan ilmu yang di dapatkan di dunia pendidikan.


Mengapa dunia pendidikan Indonesia terkesan birokratis dan tidak ada solusi kongkrit dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten ? 


Hal ini, didasarkan pada tugas-tugas pendidik sibuk dengan hal-hal yang berbau administrasi, negara terlalu membebani guru atau tenaga pendidik dengan hal-hal yang tidak substansial dalam mendidik para siswa sehingga memiliki karakter


Sehingga, muncul permasalahan dari adanya pendidikan berjenjang, yakni ketidaksiapan lulusan pendidikan Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan ekonomi di keluarga nya .


Banyak di temukan di masyarakat pedesaan, Lulus sekolah, banyak yang tidak bekerja.


Terlebih arus globalisasi menuntut untuk lulusan pendidikan baik dari SMP atau SMA langsung terjun bekerja di luar negeri


Semestinya ini menjadi PR terbesar negara sebesar dan sekaya Indonesia


Haruskah role model pendidikan di Indonesia di rubah ? 


Saya jadi berfikir, bagaimana kalau kita lihat potensi para peserta didik dari tingkat SD atau sekitar umur 8 tahun, mulai di asah untuk  dilihat prospek minat dan bakat nya, jadi sekolah tingkatan selanjutnya, sesuai dengan minat dan bakatnya


Banyak ditemukan, karena minat dan bakat inilah dapat menjadi prospek ekonomi kerakyatan.


Contoh kecil nya, karena dari kecil dia bisa bernyanyi, kemudian di latih terus menerus terkait teknik bernyanyi dan sebagainya, kemudian anak itu di orbitkan menjadi penyanyi yang profesional.


Artinya apa ?, kalau sekolah berorientasi pada ekonomi maka semestinya minat dan bakat ini menjadi rujukan khusus untuk menerapkan konsep di dunia pendidikan


Menurut Mahatma Gandhi Pendidikan " upaya untuk memanfaatkan seluruh potensi terbaik dalam pikiran dan jiwa anak-anak dan tubuh manusia. Literasi bukanlah akhir dari pendidikan, bahkan bukan permulaan. berpendidikan. Melek huruf itu sendiri bukanlah pendidikan ".


Pendidikan berjenjang, sepertinya sudah tidak relevan dengan dunia yang serba kapitalistik, tentunya Perlu ada perubahan, bagaimana SDM Indonesia dengan adanya pendidikan dapat lebih sejahtera, lebih nyaman mengembangkan potensi di negara sendiri, tenimbang bekerja di luar negeri.


Adapun penghargaan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sekiranya pemerintah lebih memperhatikan, semisal setiap sarjana diberikan hibah  untuk mengelola usaha ataupun permodalan dalam pemenuhan kebutuhan dasar hidup nya.


Banyak para kaum intelektual yang kecewa, setelah mengenyam pendidikan yang lama, akan tetapi sampai belum menemukan kesejahteraan pasca selesai mengeyam dunia pendidikan.


Inilah PR bangsa ini, belum pro terhadap para intelektual, tenaga pendidik dsb, sehingga perlu ada perhatian khusus, terlebih para anak muda yang seusia 20-23 perlu di bimbing dengan pemberdayaan. 


Sehingga, menurut saya di pandang perlu bagaimana pendidikan berjenjang ini efektif untuk kesejahteraan anak-anak yang sudah lulus dari  tingkatan SMA, yang dapat memunculkan titik kulminasi realita sosial yang jauh lebih baik dan memiliki semangat gotong royong, kreativitas handal dan inovatif


Akhirnya, pendidikan bukan hanya persoalan prospek pekerjaan akan tetapi melatih kelembutan hati dan kebajikan dalam bersikap. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilwu Serentak 2025 di Indramayu, Kuwu Terpilih di Harapkan Mengikuti Wajib Militer ( Wamil )

Menelisik Kata-kata Gie : Dunia Hanyalah Palsu dan Palsu

Ramadhan Penuh Cinta: TK Nurul Falah Pabuaran Subang Berbagi dengan Anak Yatim dan Dhuafa