Mentalitas Sumber Daya Manusia Indonesia: Kemenangan semu VS Kemenangan Instan



    Sumber foto : media RRI


Sumber Daya manusia Indonesia yang melimpah, sebanyak 60 juta penduduknya bagian dari usia produktif 


Masyarakat yang di didik dari jenjang sekolah anak usia dini sampai dengan perguruan tinggi. 


Kompetisi akademik selalu menjadi patokan bagi para guru dalam menilai peserta didik, masuk dalam kategori anak yang pintar dan cerdas. 


Selain kompetisi akademik, tidak ketinggalan pula kompetisi non akademik, seperti para calon atlit dan para seniman cilik


Apakah bakat-bakat sumber daya manusia Indonesia ini akan terus berlanjut lebih baik ? 


Jawabannya ada di Kemenangan semu dan Kemenangan Instan.


Kemenangan semu artinya, cara pendidikan kepada peserta didik yang dapat mempengaruhi mentalitas sebagai sang juara, down begitu saja dan di anggap bukan siapa-siapa, karena kemampuan akademik pada akhirnya bisa di kalahkan oleh kemampuan finansial orang tua peserta didik


Anak-anak yang meraih kemenangan baik jalur akademik atau Non akademik, itu hanya merasakan kemenangan semu, realita nya banyak sekali anak-anak yang di sekolah dasar atau di sekolah menengah atas, meraih juara di kelas nya, tapi tidak bisa mengakses ke pendidikan tinggi, mentok di persoalan finansial.


Ada juga anak yang baik dalam segi kompetisi akademik dan non akademik di perguruan tinggi, sayang nya tidak di fasilitasi secara baik oleh lembaga pendidikan atau negara. 


Kenapa pemain Timnas Indonesia banyak dari naturalisasi nya ? 


Karena skema pendidikan anak bangsa di Indonesia meraih kemenangan semu. 

Kemenangan semu itu di rasakan oleh para atlit kampung yang hebat-hebat, tidak bisa merasakan sekolah sepakbola di sekala eropa karena minimnya biaya dan enggan nya pemerintah memfasilitasi itu semua. 


Pada akhirnya, kemenangan semu di pinggirkan dan di ganti Kemenangan Instan 


Kita lebih baik mengambil Naturalisasi untuk mencapai kemenangan. 


Begitupun di tiap  daerah, terkadang dalam lomba-lomba Musabaqoh Tilawatil Qur'an, kita lebih meminjam dari desa yang lain dari daerah yang lain. Atau bahkan para Qori dari daerah kita justru di rekrut oleh daerah tetangga. 


Seakan kemenangan Instan ini menjadi jalan alternatif untuk meraih kemenangan yang Entah dapat di nikmati semua kalangan atau tidak. 


Kehilangan STY di timnas Indonesia, menjadi pukulan telak Kemenangan Sistemik.


Karen pada akhirnya mentalitas sumber daya manusia Indonesia hanya terperangkap pada kemenangan semu dan kemenangan Instan. 



Opini penulis 
Tehan Ahlal Shuhfin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilwu Serentak 2025 di Indramayu, Kuwu Terpilih di Harapkan Mengikuti Wajib Militer ( Wamil )

Menelisik Kata-kata Gie : Dunia Hanyalah Palsu dan Palsu

Ramadhan Penuh Cinta: TK Nurul Falah Pabuaran Subang Berbagi dengan Anak Yatim dan Dhuafa